Posts

Sebuah Catatan Kecil...

Memulai pengalaman menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Bagiku sangat sulit. Tak mudah menguasai kelas berisi puluhan anak dengan berbagai macam karakter. Ada yang pendiam, cerewet, bahkan hiperaktif. Namun kadang menyenangkan juga menyaksikan berbagai macam ulah mereka yang tak kadang tak terlintas oleh orang dewasa. Kadang ada hala-hal yang meneyenangkan yang dapat kita lihat dari wajah-wajah polos yang siap untuk kita hias dengan berbagai macam pengetahuan atau bahkan masalah yang bagi mereka mungkin akan menyulitakan dan menambah beban....... Memulai sesuatumemang sulit tapi perjuangan belum berakhir. Banyak tantangan.....Yah keluguan, kelucuan, bahkan kehiperaktifan mereka adalah sebuah tantangan.....Menaklukan kelas gaduh dan tawa mereka yang memekakkan adalah perjuangan tersendiri....Tatap mata bercahaya dan ucapan "selamat pagi Bu Guru..." merupakan sebuah sapaan yang masih asing namun perlahan harus dimasuki................Dunia baru, selata datang "Dun...

Sebuah Catatan Perjalanan1

Image
Udara pagi masih sangat menusuk tulang ketika saya keluar dari rumah. Dengan sebuah ransel lusuh dan beban yang memberat di punggung kususuri jalanan kampung yang aspalnya sudah banyak yang terlepas karena banyaknya kendaraan dengan kapasitas muatan yang berlebih atau karena dana pembangunannya banyak di korupsi. Jalan raya yang menghubungkan Wonosobo-Purwokerto ini masih sepi hanya angkot-angkot berwarna kuning mulai berebut penumpang. Sebuah mikrobus lewat dan kuhentikan cukup dengan satu lambaian tangan. Kunaiki bus yang hanya berpenumpang berapa gelintir saja. Maklum hari itu bukan hari pasaran. Nampak pedagang duku tidur di jok belakang dengan karung berisi dagangannya. Penumpang lain sebagian tengah asyik melakukan aktivitas sendiri. "Ongkosnya Mbak,"kata kernet. Kuulurkan selembar seribuan dan sekeping pecahan lima ratus rupiah. Lalu aku asyik mengamati pemandangan dari kaca jendela yang sedikit kusam. Getaran mesin yang menua sedikit mengganngu konsentrasi saya tapi s...

Lelaki yang Selalu Ingkar Janji....

Ah lelaki.... aku ingin memberitakan padamu, tentang langit yang hari ini muram dan ingin menceritakan kegelisahannya pada bumi...... Aku ingin menyampaikan padamu tentang bumi yang merindukan hujan untuk menggemburkan tanah yang telah saatnya dibajak.... Aku ingin memberitahumu tentang kesetiaan yang ditunjukkan Rara Mendut pada Pranacitra yang membuatnya mati oleh keris Wiraguna..... Lelaki..... Tahukah kau tentang semua itu??tentang kegelisahan, kerinduan dan kesetiaan yang bagimu tak sempat untuk kau pikrkan dengan logikamu yang..... Ah entahlah lelakiku........ Masihkah kau ingat janji yang selalu kau lantunkan dari daging liat yang disebut lidah???Seribu janji bahkan sejuta janji..... Tak usah lagi kau kau ingat lelaki cukup potong lidahmu agar kau bisa beralasan untuk terus bisu dan bisu..... Lupakan saja semua janji itu....lupakan saja semua yang terkecap dari daging liat itu..meski kau katakan atas nama cinta... Ah lelaki..... Masih pantaskah kusebut itu....

Karena Adikku Ingin Sekolah..(sebuah cerita pendek sekali!)

Hari ini unas sudah selesai. Adikku berjingkrak-jingkrak riang karena selesai sudah beban belajar di SMP...Ia sudang ingin segera berganti seragam putih abu-abu yang keren. Biar boleh pacaran, biar nggak dibilang anak kecil lagi. Dia bilang ke Simbok, "Mbok besok aku boleh ngelanjutin ke sekolah favorit kan?" kata Adikku penuh harap. Simbok hanya bingung mendengar permintaan adikku. Bukan karena nilai adikku jelek, tapi karena simbok bingung. "Sekolah favorit kan mahal?" kata Simbok pelan. Beliau tidak ingin membuat adikku patah semangat. Maka dijawabnya "Ya Nduk, nanti kamu sekolah di sekolah favorit, tapi belajar yang rajin ya." Simbok hanya berusaha membesarkan hati adikku dan berharap keinginan adikku nanti bisa diwujudkannya. Entah dengan cara bagaimana, mungkin dengan ngutang pada rentenir yang bunganya mencekik karena simbokku tidak punya petak tanah yang suratnya bisa diajminkan ke bank, juga bukan pegawai negeri yang surat pengangkatan PNS nya bi...

Sepotong Luka Untuk Ibu

Sepotong Luka untuk Ibu Kurasakan luka itu perlahan, begitu sakit. Angin senja meniup segala asa yang dulu ada. Derap hati tak lagi mengalunkan merdu tembang-tembang cinta yang begitu bergelora dahulu. Begitu senyap. Hatiku sepi tak ada lagi warna dalam hidupku, hanya hitam dan gelap. “Ibu,” kata itu tak lagi mampu kuucap. Aku merasa tak pantas menyebut nama yang begitu suci tak pantas kata itu keluar dari mulutku yang kotor. Tak hanya mulut tapi seluruh diriku. Begitu kotor, hitam, gelap seperti malam yang menjadi duniaku. Pusaran arus kesadaran membawaku ke depan pintu itu, pintu rumahku yang sekian tahun kutinggalkan. Kubayangkan guratan ketuaan di wajah ibu. Guratan wajah wanita perkasa. Wanita tangguh pahlawan yang menjaga kelangsungan hidupku. Wanita keras yang penuh kasih sayang. “ Nduk , ibu ndak bisa ngasih apapun buat kamu ibu cuma bisa nyangoni ngelmu buat kamu, belajarlah yang rajin jadilah manusia hebat, jangan seperti Ibu.” Kuingat kembali kat...

Sebuah Satire....

Mataku menelusup diantara sebuah koran yang terpajang di etalase di depan sebuah perpustakaan. Sebuah surat pembaca yang cukup menarik. Kenapa kubilang menarik? Surat pembaca itu dikirimkan oleh seorang dosen di sebuah universitas ex IKIP (Institut Ilmu Keguruan dan Ilmu Kependidikan). Surat itu mengutip sebuah humor tentang nasih seorang pengusaha dan seorang guru di depan pintu surga. malaikat bertanya pada sang konglomerat tentang pekerjaannya dan dia menjawab bahwa dirinya seorang pengusaha. Lantas malaikat meminta konglomerat menunggu. Sementara itu ketika seorang guru ditanya dan dia menjawab "saya seorang guru dari Indonesia" tanpa pikir panjang si malaikat berkata "masuklah". Karena tidak terima, si konglomerat protes dan malaikat menjawab "kamu sudah terlalu banyak bersenag-senang di dunia, sementara dia sudah terlalu lama menderita di dunia jadi biarlah dia beresenang-senang lebih lama di surga". Cukup menggelitik memang... Nasib guru masih menja...

Gerimis Pagi hari

Gerimis Suatu Pagi......... Aku ingin menyusur jejakmu pada sisa-sisa aspal yang terbakar matahari, atau pada butiran lumpur yang tercecer pada sepatumu... Aku mencari jejakmu pada sisa embun yang membasahi dedaunan yang kau petik semalam.... Aku menyusur jejakmu... bersama gerimis suatu pagi.... Yogyakarta, April 2007