Sunday, September 13, 2009

PEMAKAIAN BAHASA PROKEM SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI DI KALANGAN REMAJA

Salah satu yang diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya adalah dengan berkomunikasi. Untuk berkomunikasi dibutuhkan suatu media yaitu bahasa.Manusia tidak mungkin berinteraksi tanpa bahasa. Dalam berbagai bahasa terdapat terdapat berbagai ragam yang memiliki variasi-variasi tertentu.

Remaja adalah salah satu bagian dari masyarakat yang juga menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa yang dipakai remaja dalam berkomunikasi pun bermacam-macam ragamnya, bahasa yang digunakan itu merupakan bahasa yang biasa kita pakai sehari-hari atau campuran antara bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Dari bahasa yang digunakan ini ada sejumlah kosa kata yang dapat dipahami, tetapi ada yang tidak dapat dipahami.

Bahasa yang digunakan remaja sering berubah, hal ini terkait dengan pribadi remaja yang masih labil. Salah satu ragam bahasa yang dipakai oleh remaja adalah bahasa prokem. Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi ini merupakan bahasa sandi yang digunakan penuturnya sebagai bahasa khusus untuk kalangan mereka. Karena keberadaannya sebagai alat komunikasi yang khusus inilah bahasa prokem banyak digunakan di kalangan remaja. Bahasa ini merupakan jenis variasi bahasa yang terdapat dalam masyarakat sehingga dapat dikaji dengan sosiolinguistik.

a. Pengertian Bahasa Prokem

Bahasa prokem atau slang adalah bahasa sandi yang dipakai dan hanya dimengerti kalangan remaja. Bahasa ini konon berasal dari kalangan preman. Bahasa prokem ini digunakan sebagai sarana komunikasi diantara remaja selama kurun tertentu. Sarana komunikasi ini diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan informasi yang tidak boleh diketahui oleh kelompok usia lain terutama oleh kalangan orang tua. Ragam ini mereka gunakan agar orang dari kelompok lain tidak mengetahui tentang apa yang sedang dibicarakanya. Bahasa prokem ini timbul dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya, hal ini merupakan perilaku kebahasaan yang bersifat universal.

Kosakata bahasa prokem remaja sering diambil dari kosakata yang hidup dilingkungan tertentu. Pembentukan kata dan maknanya beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainnya. Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu dengan menggunakan bahasa prokem mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat eksklusif.

Ada yang mengatakan bahwa bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari dan menunjukkan identitas diri, bahasa yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain.

b. Pemakai Bahasa Prokem

Penganut bahasa pada umumnya ingin mengetahui masalah ini, terutama karena bahasa ini merupakan ragam percakapan tidak resmi yang banyak dipakaisebagai bahasa intern berupa kosa kata bahasa Indonesia pada umumnya. Sebagian besar mengatakan bahwa bahasa ini hanya digunakan para remaja yang suka iseng dan tidak mau berprestasi, bahasa yang tidak komunikatif merupakan gejala modeyang bersifat sementara dan cenderung menghambat upaya pembakuan bahasa Indonesia.

Kalau bahasa prokem ini dianggap mulai timbul dari kaum remaja yang iseng, dari mana masyarakat umum memahami bahasa prokem? Setelah diamati dan diteliti, ternyata bahwa bahasa prokem ini justru mulai digunakan warga masyarakat pada saat munculnya tukang copet, tukang jambret, perampok, pembunuh, dan pekerjaan lain yang menjurus kearah kriminalitas.

Dikatakan bahwa mereka ini yang sering sebagai orang preman-selalu berkomunikasi dengan orang lain yang seprofesi dengan menggunakan sejenis bahasa yang digunakan secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, orang-orang karena alasan tertentu-penjual makanan, minuman, bahkan keperluan hidup lain, atau anggota keluarga-berhubungan dengan orang preman ini (hampir) setiap hari, lama kelamaan secara perlahan-lahan dapat memahami makna istilah-istilah yang digunakan kaum preman ini. Bahasa ini kemudian diserang beberapa orang yang tidak seprofesi, tetapi yang sering bertemu muka dengan mereka ini. Mereka ini antara lain adalah pemuda dan remaja putus sekolah, yang ketika itu dikenal dengan orang dengan nama crossboy. Dari sinilah bahasa prokem mengembangakan sayapnya dan dikenal dengan istilah "Preman".

Kelompok yang kemudian tertarik untuk mempelajarinya adalah para remaja yang masih sekolah, baik disekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama, maupun sekolah lanjutan tingkat atas, bahkan ada yang masih duduk dibangku sekolah dasar atau sudah di perguruan tinggi.

c. Wujud Bahasa Prokem

Tidak ada orang yang dapat menjelaskan secara tepat bagaimana wujud bahasa prokem pada waktu timbul pertama. Namun mengingat bahwa nama bahasa ini disebut "bahasa prokem", penulis mengambil kesimpulan bahwa bentuk olahan awal bahasa ini adalah penyisipan-ok-,antara lain seperti yang terlihat pada nama bahasa itu : 'prokeman', lalu mengalami gejala apokot dengan lenyapnya bunyi akhir menjadi prokem. Kalau kita perhatikan kosakata bahasa prokem sampai pertengahan dekade 80, tampak bahwa sebagian kata-katanya diolah dengan memberi sisipan -ok-. Apakah cara ini saja yang digunakan pada saat awal timbulnya, tidaklah dapat dipastikan. Namun dari data tertulis dapat disimpulkan bahwa kosakata yang diolah dengan cara ini merupakan salah satu rumus yang memegang peranan yang sangat penting, melihat besarnya kosakata seperti ini disekitar 30 %.

Di samping penyisipan -ok-, kosakata bahasa prokem pun banyak mengalami gejala metatesis (pembalikan urutan penulisan huruf). Gejala ini sudah dikenal lama sekali ia sudah tampak sekitar 30 tahun yang lalu. Namun yang patut dicatat adalah bahwa pembalikan unsur-unsur kata yang diolah itupun mempunyai beberapa bentuk yang berbeda. Beberapa perbedaan di antaranya masih dapat kita lihat dari kosakata yang tampak dari sejumlah data yang tertulis, seperti dalam kibin'bikin', depek'pendek', maya'ayam', dan baak'asbak.

Para remaja ini cenderung mencampuradukkan segala macam pola kedalam bahasa prokem seolah-olah mau menganggap bahwa segala macam bentuk yang tidak baku merupakan bahasa prokem.

Kosakata suatu bahasa senantiasa mencerminkan keadaan lingkungan, sikap hidup, serta alam pikiran para penuturnya. Sebagian besar kata berhubungan dengan keadaan sekitar dan kehidupan penuturnya sehari-hari. Hal yang sangat berlaku terhadap bahasa prokem ini. Kosakata yang timbul dahulu lebih menjurus kearah dunia hitam: dunia pencuri, pencopet, penodong, dan perampok. Boleh dikatakan bahwa kaum preman sama sekali tidak mau menghiraukan masalah-masalah dan hal-hal di luar lingkungan kehidupan mereka. Sebagian besar kosakata menggambarkan orang-orang serta barang-barang sasaran, tempat, serta lingkungan sasran, dan khalayak serta petugas keamanan yang justru menjadipenghambat dalam melaksanakan kegiatan mereka.

d. Pemakaian Bahasa Prokem di Kalangan Remaja

Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Masa pemakainya terbatas pada situasi tidak resmi. Jika mereka berada di luar dari lingkungan kelompoknya bahasa yang digunakan beralih ke bahasa lain yang berlaku di tempat umum itu. Kehadirannya dalam lingkungan bahasa daerah atau bahasa Indonesia sesungguhnya tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing timbul, dan berkembang sesuai dengan fungsi dan keperluan masing-masing.

Bahasa prokem itu diantaranya ditandai dengan penggunaan kata-kata slang, jargon ,singkatan, dan ungkapan formulaik iklan. Kosakata slang adalah kosa kata yang maknanya perlu dirahasiakan. Kosa kata ini biasanya diletakkan diantara kata dalam bahasa Jakarta (Betawi).

Keaktifan sehari-hari para remaja kita lebih banyak berkaitan dengan kehidupan keluarga, keadaan sekolah dan atau perguruan tinggi, serta masalah-masalah kenakalan remaja. Ini menyiratkan bahwa kosakata yang timbul kemudian mengacu pada hal dan masalah sekitar rumah, pergaulan, pendidikan, dan kenakalan remaja yang terungkap dengan istilah kekerabatan, kata ganti orang, masalah seks, narkotik dan obat-obatan sejenis serta minuman keras. Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa semua kosakata kaum preman sama sekali tidak digunakan para pemuda dan remaja, tetapi fungsi suatu benda dalam suatu kelompok, yang bentuknya juga dikenal anggota kelompok lain, tentulah berbeda.

Dari uraian di atas tampak bahwa perbedaan bahasa prokem antara kedua kelompok ini terjadi karena penuturnya berbeda, fungsi dan tujuan pemakaiannyapun berbeda: kaum preman melakukan tindakan kejahatan, para pemuda dan remaja suka bergembira dan bergaul dengan sesamanya. Setelah bahasa prokem ini lebih banyak digunakan para pemuda dan remaja pengertian "bahasa prokem" ini telah berubah atau lebih tepat dikatakan bergeser maknanya.

Bahasa prokem ini tidak lagi disediakan dengan bentuk dan rumus atau kode bahasa itu, melainkan lebih ditonjolkan sebagai bahasa kode atau sandi yang dipakai oleh kelompok tertentu, dalam hal ini para pemuda dan remaja. Setiap kelompok dapat seja memberi inpterperestasi yang berbeda-beda menurut pengertian masing-masing, karena itu dapat kita temukan sejumlah variasi dalam pemakaian kalimat bahasa Indonesia. Inilah yang merupakan salah satu ciri pembeda bahasa prokem kaum preman, pencetus dan pencipta bahasa ini, dengan bahasa prokem kaum pemuda dan remaja saat ini.

e. Contoh-contoh Kosakata Bahasa Prokem

Kata unik dalam bahasa prokem itu diantaranya adalah :

1. Akronim:

selaras ‘semakin laku keras'

Turbo 'turunan bokek'

Manja 'mandi jarang'

Pejabat 'peranakan jawa batak'

Sersan 'serius tapi santai'

2. singkatan huruf awal:

TKW 'tak kenal wanita'

KUHP 'kasih uang habis perkara'

AC 'adengan cinta'

MBA 'memble aja'

3. Pemakaian kata yang huruf awalnya sama dengan huruf awal kata yang

diacu:

Ji SamSoe 'jiwaku sampai surga'

Bentul Filter 'blue flim'

Taksi gelap 'tante girang'

4. Pemakaian kata yang bermajas ironi:

Badak 'kasar'

Bonsai 'orang kerdil'

Gersang 'tidak disungguhi minum'

King 'bapak'

5. Contoh-contoh lain


Bokap : bapak

Bonyok : bapak ibu

Boceng : petugas keamanan

Cuek : tidak acuh

Doku : uang

Doi : pacar

Hebring : sangat hebat

Ngelinting : mengisap ganja

Nyokap : ibu

Telmi 'telat mikir'

ABG 'anak baru gede'

Camer 'calon mertua'


Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa prokem banyak digunakan kaum pemuda dan remaja, pada umumnya digunakan penuturannya

untuk berkomunikasi dengan sesama dalam keadaan santai dan berfungsi untuk menjalin keakraban. Bahasa inipun digunakan sebagai identitas keakraban. Bahasainipun digunakan sebagai identitas kelompok hingga ada kemungkinan bahwa kelompok yang berbeda akan menggunakan kosa kata yang berbeda pula. Sebagian besar kata-katanya dibentuk seolah-olah merupakan kata biasa yang digunakan orang dalam percakapan sehari-hari.

Dari pemakaian tampak bahwa keadaaan ini tidak perlu terlalu dirisaukan karena bahasa ini hanya merupakan suatu gejala yang serupa dengan gejala dialek lainnya yang dikenal dengan bahasa Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Anwar, Khaidir. 1984. Fungsi dan peranan Bahasa : Sebuah Pengantar. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

http://library.usu.ac.id

www.jurnal-kopertis4.org/file/kopwil4-340.doc

Wednesday, October 15, 2008

Matematika Hatimu


Aku tak biasa mengeja pikiranmu
Seperti saat mengeja abjad-abjad
Atau angka-angka dan huruf pada persamaan linear
Bahkan pada persamaan aljabar yang harus kuselesaikan
Untuk sekedar menemukan bilangan x atau y

Aku bukan peramal
Tak biasa menduga kedalaman hatimu
Atau mengukur luas maupun volumenya
Seperti ketika aku belajar dimensi tiga
Menghitung luas dan volum kubus, kerucut, atau bangun ruang lain

Hati dan pikiranmu adalah ruangan yang tak kutahu bentuknya
tak bisa kuhitung dalam dan luasnya tak juga bisa kutakar nilainya
dalam bilangan nol hingga sepuluh bahkan sejuta
karena itu katakanlah terus terang
jangan kau gunakan lambang-lambang
apalagi persamaan maupun perbandingan

Karena yang kau rasa
Tak bisa terselesaikan dengan rumus-rumus
atau kau kira-kira seperti saat menjawab pilihan ganda
sebagaimana kau menyelesaikan
soal matematika....

Tuesday, October 14, 2008

Kawan...Pada Akhirnya.......

Kemarin aku baru menerima sepucuk surat dari sahabatku yang tengah diasingkan oleh keluarganya karena mungkin ia membuat kesalahan yang tak termaafkan. Surat itu berisi kata perpisahan yang kupikir begitu menyakitkan.
Aku dan dia pernah membeli sebuah novel yang sama karya almarhun Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Mereka yang dilumpuhkan. Novel itu berkisah tentang tahanan perang orang-orang yang dilumpuhkan dibalik terali.
Yah seperti Sarpin Danuasmara kini sahabatku hanya bisa menulis dalam pelumpuhannya. Hanya mengungkapkan kegelisahan dan kesedihannya lewat kata-kata. Dan pada perbincangan terakhir aku sempat menangis karena sudah terlalu banyak yang terlewat berdua. Banyak tempat menjadi saksi persahabatanku dan dia mulai dari emperan malioboro, perempatan, kantorpos besar, jalanan jogja yang panas ketika siang dan menjadi dingin ketika malam atau bahkan hall rektorat kampus yang menjadi saksi saat aku dan dia berbaring di samping air mancur sambil menatap bintang. Masihkah semua itu terulang pada suatu waktu? aku hanya berharap seperti pola-pola yang senantiasa terulang dalam siklus hidup aku harap suatu hari aku dan dia akan melewati pola yang sama ketika aku dan dia bersama. Kawan selamat jalan aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu seperti pada mimpimu ketika aku menarikmu dari pusaran kegelapan dan badai..ya aku tak bisa menarikmu aku tak kuat menarikmu kawan dan kau tenggelam, maafkan aku kawan.......
Aku cuma bisa mendengarkan alunan lagu Dear God Avenged Sevenfold
Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I'm not around,

Sunday, August 10, 2008

Andaikan Saja....

Aku merenung...mendengarkan lagu-lagu Ipang yang liriknya begitu dalam menyentil perasaanku....aku tak tahu sudah berapa lama aku merenung berharap ada keajaiban yang akan membuatmu kembali padaku meminta maaf dan melanjutkan janji-janji dan rencana yang pernah kita susun. Tapi mungkin memang aku sudah tak mempunyai kesempatan untuk memintamu tetap tinggal. Mungkin aku mengecewakan bagimu tapi salahkah aku jika masih berharap semua kembali??? mungkin bagimu semua mudah tapi tidak bagiku...terlampau sulit.....
Aku ibarat sedang menaiki sebuah pohon dan saat aku mencapai dahan tertinggi tiba-tiba dahan itu patah entah karena tubuhku yang berat atau dahannya yang rapuh...dan itu yang terjdi...
ketika aku tengah mencoba merealisasikan rencana indah kita. ternyata dahan itu tak sekuat yang kukira, ternyata kau tak sesabar yang kuduga....dan dahan yag kupijak itu pun patah...aku kesakitan....sakit sekali....untuk menangis aku sudah kehilangan air mata karena terlalu sakit hingga yang kurasakan hanya sesak yang hampir tak kuat kutahan.....aku kehilanganmu di saat aku muali bangun menata harapan...bahwa masih ada yang namanya cinta...tapi ternyata...kau tak benar-benar mencintaiku...hingga yang kurasakan adalah rasa yang aku tak bisa ungkapkan...
Lelakiku...
Asal kau tahu...hanya perempuan ini yang tulus dan sangat menyayangimu............
Lelakiku...mungkin ini yang terbaik untuk kita......meski bukan yang kuharapkan.........

Wednesday, March 26, 2008

Catatan Saat Matahari Mulai Muncul

ah...lagi-lagi aku melakukan kesalahan. kali ini terlalu fatal. aku belum mampu bangun dan merangkak ketika aku kembali jatuh. entahlah......pagi terlalu dingin untuk dapat kuajak mendiskusikan kealpaan baru yang kucatat dalam serakan kisah-kisah yang belum sempat aku bendel....Satu lembar lagi padahal lembar yang lalu belum sempat aku koreksi....padahal mataku sudah terlalu malas untuk melihat lagi lembaran lalu yang prnuh kesalahan....sepertinya semua harus kubakar dahulu lalu setelah semua menjadi abu aku harus mengambil lemabaran kertas baru yang harus kuisi lebih teliti lagi.....jangan ada lagi kesalahan-kesalahan bodoh yang seharusnya bisa dihindari.......ah sudahlah...aku lelah..

Friday, March 21, 2008

Perkembangan Aliran Linguistik

PERKEMBANGAN BEBERAPA ALAIRAN LINGUISTIK

ALIRAN TRADISIONAL

Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat dimulai pada abad IV Sebelum Masehi yaitu ketika Plato membagi jenis kata dalam bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yaitu onoma dan rhema. Onoma merupakan jenis kata yang menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan. Sedangkan rhema merupakan jenis kata yang digunakan mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan. Secara sederhana onoma dapat disejajarkan dengan kata benda dan rhema dapat disejajarkan dengan kata sifat atau kata kerja. Pernyataan yang dibentuk onoma dan rhema dikenal dengan istilah proposisi.

Penggolongan kata tersebut kemudian disusul dengan kemunculan tata bahasa Latin karya Dyonisisus Thrax dalam bukunya ”Techne Gramaticale” (130 M). Dengan demikian pelopor aliran tradisionalisme adalah Plato dan Aristoteles. Tokoh-tokoh yang menganut aliran ini antara lain; Dyonisisus Thrax, Zandvoort, C.A. Mees, van Ophuysen, RO Winstedt, Raja Ali Haji, St. Moh. Zain, St. Takdir Alisyahbana, Madong Lubis, Poedjawijatna, Tardjan hadidjaja.

Aliran ini merupakan aliran tertua namun karena ketaatannya pada kaidah menyebabkan aliran ini tetap eksis di zaman apapun.

Ciri-ciri aliran ini antara lain:

1. Bertolak dari landasan pola pikir filsafat

2. Pemerian bahasa secara historis

3. Tidak membedakan bahasa dan tulisan.

Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa dan tulisan sehingga secara otomatis mencampuradukkan penegrtian bunyi dan huruf.

4. Senang bermain dengan definisi.

Hal ini karena pengaruh berpikir secara deduktif yaitu semua istilah didefinisikan baru diberi contoh alakadarnya.

5. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah.

Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa tata bahasa yang cenderung menghakimi benar-salah pemakaian bahasa, tata bahasa ini disebut juga tata bahasa normatif.

6. Level-level gramatikal belum rapi, tataran yang dipakai hanya pada level huruf, kata, dan kalimat. Tataran morfem, frase, kalusa, dan wacana belum digarap.

7. Dominasi pada permasalahan jenis kata

Pada awalnya kata dibagi menjadi onoma dan rhema (Plato) lalu dikembangkan oleh Aristoteles menjadi onoma, rhema, dan syndesmos. Kemudian pada masa tradisionalisme ini kata sudah dibagi menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, artikel, verba, adverbia, preposisi, partisipium, dan konjungsi. Pada abad peretngahan Modistae membagi kata menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, partisipium, verba, adverbia, preposisi, konjungsio, dan interjeksi. Pada zaman renaisance kata kembali dibagi menjadi tujuh nomina, pronomina, partisipium, adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Perkembangan jenis kata di Belanda dibagi menjadi sepuluh yaitu nomina, verba, pronomina, partisipium, adverbia, adjektiva, numeralia, preposisi, konjungsi, interjeksi, dsan artikel.

Keunggulan Aliran Tradisional

a. Lebih tahan lama karena bertolak dari pola pikir filsafat

b. Keteraturan penggunaaan bahasa sangat dibanggakan karena berkiblat pada bahasa tulis baku

c. Mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena aliran ini sengan bermain dengan definisi

d. Menjadikan para penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa kareana pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah

e. Aliran ini memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan prinsip yang benar adalah benar walaupun tidak umum dan yang salah adalah salah meskipun banyak penganutnya.

Kelemahan Aliran Tradisional

a. Belum membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian bahasa dan tulisan masih kacau

b. Teori ini tidak menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan.

c. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah sehingga meskipun pandai dalam teori bahasa tetapi tidak mahir dalam berbahasa di masyarakat.

d. Level gramatikalnya belum rapi karena hanya ada tiga level yaitu huruf, kata, dan kalimat.

e. Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa Latin yang sangat berebda dengan bahasa Indonesia

f. Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata (part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.

g. Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya sebagian dari ragam bahasa yang ada.

h. Objek kajian hanya sampai level kalimat sehingga tidak komunikatif

ALIRAN STRUKTURAL

Teori ini berlandaskan pola pikir behaviouristik. Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916. aliran ini lahir bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern. Tokoh-tokoh yang merupakan penganut teori ini adalah : Bally, Sachahaye, E. Nida, L. Bloomfield, Hockett, Gleason, Bloch, G.L. Trager, Lado, Hausen, Harris, Fries, Sapir, Trubetzkoy, Mackey, jacobson, Joos, Wells, Nelson.

Ciri-ciri Aliran Struktural

1. Berlandaskan pada faham behaviourisme

Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).

2. Bahasa berupa ujaran.

Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa . dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture.

3. Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.

Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.

4. Bahasa merupakan kebiasaan (habit)

Berdasarkan sistem habit, pengajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan.

5. Kegramatikalan berdasarkan keumuman.

6. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi.

Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Tataran di atas kalimat belum terjangkau oleh aliran ini.

7. Analisis dimulai dari bidang morfologi.

8. Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik

9. Analisis bahasa secara deskriptif.

10. Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.

Unsur langsung adalah unsur yang secara langsung membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur langsung yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.

Keunggulan Aliran Struktural

a. Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.

b. Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaan

c. Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.

d. Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.

e. Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.

Kelemahan Aliran Struktural

a. Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.

b. Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.

c. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.

d. Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.

e. Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.

f. Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.

ALIRAN TRANSFORMASI

Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan.

Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz, Allen, van Buren, R. D. King, R.A. Jacobs, J. Green, dll.

Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi.

Ciri-ciri Aliran Transformasi

1. Berdasarkan faham mentalistik.

Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.

2. Bahasa merupakan innate

Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)

3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.

Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.

4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance

Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.

5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.

6. Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif

Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.

7. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.

Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.

8. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.

Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.

9. Gramatikal bersifat generatif.

Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).

Keunggulan Aliran Transformasi

a. Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.

b. Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)

c. Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.

d. Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.

e. dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.

Kelemahan Aliran Transformasi

a. Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat

b. Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.

c. Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structure


Monday, March 3, 2008

Ipang- Hey

IPANG RIDHO HEY LYRICS
hey
belum juga aku mengerti
apa yang sedang kurasakan
tak seperti biasanya

hey
mungkin semua karenamu
sudah tak bisa kunikmati
saat kau tak bersamaku

reff:
seandainya saja
kubisa katakan jangan kau tinggalkan
saat ini kuragu
bisakah kunikmati smua tanpamu
selamanya

hey
pernah kukatakn dalam hati
mencoba untuk menikmati
smua yg terjadi

hey
ternyata sangat melelahkan
harusku hadapi kenyataan
sendiri tak bersamamu

Sekali lagi-nYa Ipang

Ipang BIP - Sekali Lagi


kalau saja aku masih punya

kesempatan yang sama

atau semua yang pernah terjadi

bisa terulang lagi

tapi ternyata kesempatan yang ada

hanya sekali


sampai kini masih ku tunggu

datangnya keajaiban

yang mungkin saja bisa memberiku

waktu satu kali lagi

seandainya masih bisa kudapatkan

sekali lagi, satu kali lagi


reff: masih tertunda dan belum semua ku katakan

biar ku tunggu sampai kau kembali lagi di sini

harus kau dengar semua yang harus kau dengarkan

isi hatiku yang belum ku sampaikan


ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi

tapi ku berharap semoga masih ada kesempatan

sekali lagi


repat reff


Popularity: 6% [?]


Sumber: LirikLaguIndonesia.Net