Mengalir Saja!!!!
Aku hanya mengalir!! melukiskan semua...lewat kata!!
Sunday, December 12, 2010
Dan Guru pun Bisa Belajar dari Murid
Jika aku bandingkan dengan menjadi guru bahasa Indonesia di sekolah formal, maka aku merasa lebih senang menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing. Selain mengajarkan bahasa, kita juga bisa bertukar pengetahuan tentang budaya. Sangat menarik berdiskusi tentang bagaimana bertamu, bagaimana pernikahan, sampai bagaimana sistem kesehatan di negara mereka. Ditambah lagi dengan target pembelajaran yang jelas yaitu murid bisa berkomunikasi lisan dan tulisan sehingga tidak ada beban moral yang berat seperti ketika mengajar di sekolah formal di mana ketika murid melakukan tindakan yang tidak baik akan selalu dihubungkan dengan pertanyaan, ”Dia sekolah di mana?” atau lebih ekstrem ”Kemarin muridmu ada yang bla bla bla bla?” Sebuah tanggung jawab moral yang lumayan berat karena guru memang bukan sekadar pengajar tetapi juga pendidik. Belum lagi ketika apa yang kita ajarkan harus dibenturkan dengan sistem pendidikan kita di mana standar kualitas ditentukan oleh sebuah momok bernama UNAS. Rasa-rasanya menjadi semakin kabur antara tujuan pembelajaran (dalam hal ini pembelajaran bahasa Indonesia) yang konon menurut silabus adalah meningkatkan kemampuan berbahasa (berbicara, membaca, menulis, menyimak) dan kemampuan bersastra di mana ternyata pengukur kualitas target pembelajarannya hanya soal pilihan ganda berjumlah 60 buah yang menurutku tidak layak untuk menguji bagaimana kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra.
Membicarakan sistem pendidikan kita memang tak akan ada habisnya. Kembali ke topik awal, selain beberapa kelebihan yang sudah kusebutkan, ada hal lain yang tak kalah penting. Mempelajari esensi dan makna setiap kata. Terkadang kita meremehkan penggunaan kata tidak pernah dan belum pernah, pulang dan kembali, dan banyak kata lain yang sebenarnya berbeda tetapi kita samakan penggunaanya. Menjadi guru bahasa Indonesia bagi orang asing ternyata membuat kita harus mengenal karakter setiap kata yang kita ajarkan. Banyak kata yang pada mulanya kita anggap sama ternyata tetap ada pembedaan maknanya. Saya ingat ketika ujian tengah training saya terjebak dengan kata ”ada” dan ”punya”. Saat itu saya tidak menyadari bahwa dua kata itu berbeda (tulisannya saja beda, maknanya jelas beda). Sebelumnya mungkin saya tidak memperhatikan karena saya sering bertanya ”Kamu ada uang?” atau ”Kamu ada baju warna merah?”. Kata ada dalam kalimat itu dalam percakapan sehari-hari yang tidak formal terkadang maknanya kita samakan dengan ”punya” tetapi ketika kita mengajarkannya kepada orang asing, mereka akan sangat jeli membedakan makna, bagaimana strukturnya, susunan kalimatnya. Orang asing belajar bahasa Indonesia pun sama dengan kita ketika belajar bahasa Inggris. Jadi memang selalu ada yang baru ketika kita memasuki sebuah dunia baru dan ada banyak pengetahuan di balik bahasa.
Akan selalu ada yang datang dan pergi mungkin James adalah murid pertamaku meskipun dia mungkin juga tak sadar kalau dia adalah murid pertamaku. Dan setelah dia akan ada ekspatriat-ekspatriat lain yang menjadi muridku. Tentu akan ada banyak hal baru dari sana, ada banyak budaya baru. Yah, bukan hanya murid saja yang belajar dari guru, tapi guru pun bisa belajar dari murid.
Yogyakarta, 16 April 2010
(Tulisan yang tertunda berbulan-bulan proses penyelesaiannya)
Sunday, December 5, 2010
Friday, April 16, 2010
Mendaki Borobudur, Membaca Sejarah Budha
"Satu tiket asing," kataku pada petugas tiket.
"15 dollar atau seratus tiga puluh lima ribu rupiah."
Kuulurkan lembaran senilai seratus lima puluh ribu dan petugas mengembalikan lima belas ribu rupiah. Petugas entrance mengecek tiket dan dia bertanya padaku perihal tiketku. Kubilang aku sudah biasa ke Borobudur membawa murid asing dan biasanya tidak pakai tiket. Petugas pun menyilakan kami untuk masuk kebetulan aku memakai baju batik yang merupakan ikon guide Borobudur.
Selepas lolos security check kami memasuki area wisata Borobudur. Kulihat gajah-gajah belum terlihat di area "persewaan gajah". Aku mulai menjelaskan perihal Borobudur yang sudah berdiri sejak Dinasti Syailendra di abad ke 8 Masehi. Aku berjalan ke sebelah kanan dan menjelaskan pola Borobudur yang tergambar pada sebuah papan. "Ini namanya pola Mandala, pola ini juga menjadi pola Candi Sewu," jelasku singkat.
Menaiki candi tua itu, muridku ingin berfoto. Baru saja satu gambar terambil, seorang ibu muda dengan kaca mata hitam meminta foto bersama muridku. "Anda jadi selebritis hari ini," dan dia tertawa.
Memasuki Lantai pertama. Lantai 1 disebut kamadhatu yang berarti dunia yang masih dipenuhi oleh nafsu. Di sana kami melihat relief yang disebut Karmawibhangga yang berkisah tentang hukum karma. Naik ke lantai selanjutnya, kami bertemu dengan anak-anak berseragam SMP yang tengah menyelesaikan tugas bahasa Inggris untuk wawanacara dengan turis asing. Yah perjalanan terhenti sejenak karena mereka ingin wawancara dengan muridku. Sepuluh menit berlalu, selepas obrolan singkat mereka kami menyusuri deretan kisah perjalanan Budha, sejarah kelahiran Sidharta Gautama yang terangkum dalam deretan relief berjuluk Lalitavistara. Relief itu dimulai dari kisah Budha di Surga yang ingin menitis ke dunia. Dia memilih Dewi Maya istri dari Raja Chuyodana untuk menjadi bakal ibunya dan kemudian menjadikan maya bermimpi ada gajah masuk ke dalam rahimya. Raja lalu meminta informasi dari seorang Brahmana dan dia mendapat kabar bahwa istrinya akan mengandung Budha. Sejak itu, Raja banyak memberi sedekah kepada para brahmana, orang-orang miskin, orang-orang cacat. Setelah sembilan bulan, tibalah saatnya dia melahirkan. Maya pun pergi ke taman Lumbini dan melahirkan di sana. Namun sayang setelah melahirkan ia meninggal. Ajaib bayi yang lahir itu bisa berjalan dan setiap langkahnya muncul lotus. Muridku yang mendengar ceritaku berkata kalau kisah itu mirip dengan kisah kelahiran Yesus. Budha yang menitis itu kemudian diberi nama Sidharta (Sidharta Gautama) dan ia diasuh oleh Dewi Gautami, adik raja.
Kisah pun berlanjut ketika Sidharta Gautama dewasa dan ia ingin menikah. Ia harus mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Gopa. Bahkan di sayembara itu dia harus merelakan gajahnya dibunuh oleh saingannya. Ia pun melempar gajah mati itu dengan telunjuknya. Banyak sayembara dilalui untuk mendapatkan Dewi Gopa dan setelah sayembara itu dia akhirnya berhasip memperistri Dewi Gopa.
Tinggal di istana membuatnya lupa akan tanggung jawabnya di dunia sampai akhirnya dewa datang di mimpinya dan mengingatkan akan tanggung jawab itu. Dia lalu memutuskan untuk pergi dari istana tetapi raja menghalanginya bahkan memberi iming-iming tiga buah istana dan banyak wanita cantik untuk menahannya agar tidak pergi. Tapi Sidharta tetap pergi dan mengemban tugasnya. Relief-relief yang berjumlah 160 buah di tingkatan ini selanjutnya berkisah tentang perjalanan Sidharta selepas pergi dari istana.
Relief itu pun berujung dan kami menaiki lantai selanjutnya yang bercerita tentang Sudhana yang ingin mencari pengetahuan tertinggi. Tak banyak yang bisa diceritakan di lantai yang berisi relief yang disebut Gandawyuha ini. Begitupun di lantai selanjutnya yang masih berada di lantai yang disebut rupadhatu.
Akhirnya sampai juga di lantai yang disebut arupadhatu. Lantai yang berisi stupa-stupa yang di dalamnya berisi patung-patung ini terdiri dari tiga lantai. Lantai terakhir adalah stupa utama. Yah, lambang dari nirwana. Puncak tertinggi dari candi yang namanya diambil dari kata sambarabuddhara ini.
Muridku tiba-tiba berkata, "Wah, nirwana masih tutup ya?"
Dan kami pun tertawa bersama-sama.
Yogyakarta, 16 April 2010
Friday, February 19, 2010
Sebuah Catatan tentang Menunggu (Dari catatan FB)
Kata Gigi menunggu itu bosan, bosan yang memusingkanku….kalau dipikir-pikir bener juga tuh,.,menunggu itu membosankan, bahkan dalam sebuah adegan di film Jomblo dikatakan kalau "cinta itu bisa datang dan pergi tapi cinta itu nggak bisa menunggu" dan smua itu bener apalagi klau menunggu tanpa waktu…..(wuihh)
Apapun bahasanya menunggu itu emang ga ngenakin,. bayangin aja kalau kita janjian truzz dah datang ontime ternyata orang yang kita tunggu ngaret…pasti sangat menyebalkan tuh,.,.,
kalau emang ga mau menunggu jangan suka bikin org lain menunggu donk,.,karena menunggu itu menyakitkan…
Coba bercermin pada diri kita, kita sering merasa dongkol kalau orang yang kita ajak janjian atau ngajak janjian nggak ontime padahal kalau kita telusur kadang kita juga kaya gitu. Hal ini karena sudah menjadi ciri khas kalau orang Indonesia suka ngaret.
Kalau kita tilik sejarahnya ternyata budaya ngaret itu muncul sebenarnya dari pepatah,.,bagaimana itu bisa terjadi??
lihatlah orang barat yang bersemboyan time is money, mereka akan menghargai waktu karena bagi mereka waktu adalah uang. Atau kita lihat orang Arab bersemboyan waktu adalah pedang maka mereka menghargai waktu karena mereka harus berhati-hati karena klau tidak dimanfaatkan dengan semestinya bisa membahayakan diri sendiri. Lalu kenapa orang Indonesia bisa begini??? Bisa jadi karena sebagian besar orang Indonesia yang menjalani hidup rata-rata di pulau jawa berpedoman "alon-alon asal kelakon."
Bener nggak siih???
Tuesday, December 15, 2009
“Dari Korban Hegemoni Patriarkis sampai Ingin Jadi Superhero”
Beberapa bulan yang lalu, saya berbincang dengan mantan pacar saya (saat itu masih pacar tentunya) tentang sebagian pasangan yang ketergantungan berlebih pada pasangannya. Ia berkata, “Kamu jangan pernah tergantung padaku, kamu harus mandiri dan berlaku seperti biasa sebelum kita pacaran, karena nanti kalau kita putus, aku sih berharap kalau kita tidak putus, tetapi kalau memang suatu saat nanti kita harus putus luka yang kita tanggung tidak akan seberat ketika kau sudah terlanjur tergantung padaku.” Benar saja ketika akhirnya hubungan kami berakhir, saya masih bisa berdiri sendiri dan meskipun berat tapi bisa lebih cepat mengikis rasa sakit itu sampai akhirnya saya bisa penggantinya.
Tak berselang begitu lama, saya bertemu dengan seorang kawan, kami sudah lama tidak berkomunikasi. Seperti halnya perempuan pada umumnya kami berbincang masalah hubungan dengan laki-laki. Saya pikir dia masih berpacaran dengan pacar lamanya, usut punya usut ternyata sudah putus dan ketika saya tanyakan ternyata ketergantungan dan kemandirian menjadi permasalahan juga. ”Pacarku ingin selalu dibutuhkan, padahal aku berpikir segala sesuatu yang masih bisa aku lakukan sendiri ya aku lakukan sendiri, aku tidak ingin tergantung padanya,” demikian ungkapnya sore itu selepas acara hajatan seorang kawan. Saya kemudian menyimpan pernyataan itu sambil menyimpan pertanyaan besar, kenapa laki-laki bisa berpikir seperti itu?
Belum lama ini, saya mendapat sebuah SMS dari seorang kawan saya yang lain, ”Pacarku nyekik aku,” katanya. Saya pikir dia bercanda maka saya menanggapi dengan candaan. Tapi ketika kemudian kudatangi di kosnya, benar terdapat luka bekas cekikan di leher dan mata kawan saya itu terlihat sembab karena menangis. ”Ini sudah ke sekian kalinya terjadi,” katanya. Dan hebatnya dia bisa bertahan dengan kondisi seperti itu selama 2 tahun. Setelah perbincangan panjang ternyata semua terjadi karena ia tergantung pada pacarnya. Selama dua tahun mereka terlalu terlihat bersama setiap hari, biaya hidup juga sebagian ditanggung pacarnya, jadi ketika semua kekerasan itu berulang terjadi dia merasa tetap tidak bisa melepaskannya.
Dari beberapa kasus tersebut, saya kemudian berbincang dengan seorang kawan yang lain, ternyata banyak juga kisah serupa. Banyak perempuan yang tidak tergantung (mandiri) ternyata lebih banyak yang gagal dalam percintaan. Tenyata perhatian, perrcaya, dan komunikasi saja belum cukup dalam sebuah hubungan, ternyata ada andil yg lebih besar untuk mempertahankannya yaitu ”ketergantungan”. Dari perbincangan ini lantas terpikir oleh saya untuk menanyakan kepada kawan-kawan lelaki saya. Segera saya tulis sebuah pertanyaan ”Mengapa sebagian besar lelaki lebih menyukai perempuan yang tergantung kepadanya daripada perempuan yang mandiri”. Pertanyaan tersebut kemudian saya kirim di hampir 70-an nomor yang ada di ponsel saya, dan semuanya laki-laki. Tak berselang begitu lama muncul berbagai jawaban. Dari yang mengira saya feminis, sedang terdera patah hati, atau bahkan mengira saya mencari data untuk skripsi. Beberapa kawan tidak menjawab termasuk beberapa mantan pacar saya, mungkin mereka mengira saya masih sakit hati pada mereka. Padahal keinginan saya hanya mencari tahu saja dan dibelakang kalimat saya tambahi pernyataan ”untuk survey”. Tapi sudahlah tidak perlu saya perpanjang lagi yang jelas saya kemudian ingin menulis hasilnya.
Bukan dengan uji-t tentunya (maaf karena nilai statistik saya hanya b- dan untuk skripsi saya masukkan ke analisis data). Tapi saya ingin mendeskripsikan saja meskipun singkat dan terkesan ngawur. Dari sekian banyak pesan singkat yang saya kirim, hampir 50% terbalas, mungkin belum mewakili jumlah lelaki di Indonesia yang sekian puluh juta jiwa, tapi setidaknya cukup lah untuk menjawab pertanyaan besar saya. Dari 50% yang menjawab, hanya ada 5 orang yang menanyakan dirinya memilih perempuan mandiri. Selain itu mereka menjawab dengan jawaban bervariasi yang pada intinya mereka memilih perempuan yang tergantung padanya.
Bermula dari jawaban kawan SMA saya, laki-laki itu senang kalau keberadaannya diakui, senang kalau dirinya berguna, dan dengan memberikan apa yang wanita butuhkan dengan itu ia menyayanginya, selain itu leki-laki kan calon pemimpin rumah tangga, otomatis senang kalau keberadaannya diakui, begitu tulisnya. Tak berapa lama muncul jawaban yang bertentangan dengan pernyataan pertama, agar superior dan perposisi tawar=bisa seenakanya, korban hegemoni patriarki, demikian balasan lainnya. Agaknya jawaban tentangan ini tidak berpengikut. Jawaban-jawaban yang masuk selanjutnya adalah penguatan dari jawaban pertama. ”Biasa, lelaki kan ingin kaya superhero biar terkesan bisa melindungi ceweknya, ” pendapat tersebut semakin diamini oleh pendapat-pendapat sejenis lain. Sudah takdirnya dari zaman Nabi Adam, Majapahit, samapai sekarang juga kodratnya seperti itu. Karena aki-laki kan calon pemimpin otomatis yang dipimpin harus dibawah pemimpinnya lah. Biar laki-laki ada gunanya. Kalau perempuan tergantung kan membuat laki-laki menjadi laki-laki beneran, laki-laki senang jika bisa diandalkan pasangan. Lah emang laki-laki harus mengayomi perempuan, dari sononya secara fisik dan psikis juga laki-laki lebih kuat so memang harus mengayomi perempuan, pandangan masyarakan memang mengharuskan seperti itu. Itu sih emang ego dasar laki-laki Neng. Jawaban-jawaban lain sejenis masih terus menerus muncul sampai siang itu sebuah SMS masuk dari teman SMA saya juga: karena laki-laki itu beranggapan bahwa semakin cewek bergantung padanya cewek semakin berat untuk lepas/putus, dengan kata lain posisi tawar laki-laki jadi lebih kuat.
Mungkin tidak semua pesan pendek yang masuk bisa saya tuliskan, karena jawaban yang muncul rata-rata adalah sejenis. Lewat catatan singkat ini, saya tidak akan menyimpulkan apapun, simpulkan sendiri saja. Nanti kalau saya simpulkan saya dikira feminis lagi atau lebih ekstrem malah dikira korban lelaki.
Sunday, December 6, 2009
Ada Luka
Ada luka, ketika kau pun akhirnya pergi
Ada tangis ketika akhirnya kau tak kembali
Tak ada lagi penggalan kisah yang bisa kita rangkai
Tak ada lagi puntung-puntung kenangan yang bisa kita kumpulkan
Untuk mengingat bahwa pernah ada kisah yang terjalin
Akhirnya semua kembali seperti biasa
Dan aku benar-benar telah kehilanganmu.......
3 Mei 2009
Mungkin Aku Lupa
Mungkin aku lupa
Pernah ada cerita indah
Pada malammalam saat kita beradu argumen
Tentang kisahkisah yang pernah kita baca
Mungkin aku lupa pernah ada kisah
Yang berulang kita debatkan
Dan tak jarang membuat kita tak menyelesaikan
Percakapan pada malammalam panjang kita
Ketika kita tak percaya lagi pada kata
Ketika kita tak lagi bisa saling beretorika
Mungkin aku lupa
Tapi aku tahu kau berharap aku bisa mengingatnya
Dan menyelesaikan penggalan kisahkisah lama
Yang belum sempat kita rangkai……
Sunday, September 13, 2009
PEMAKAIAN BAHASA PROKEM SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI DI KALANGAN REMAJA
Salah satu yang diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya adalah dengan berkomunikasi. Untuk berkomunikasi dibutuhkan suatu media yaitu bahasa.Manusia tidak mungkin berinteraksi tanpa bahasa. Dalam berbagai bahasa terdapat terdapat berbagai ragam yang memiliki variasi-variasi tertentu.
Remaja adalah salah satu bagian dari masyarakat yang juga menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa yang dipakai remaja dalam berkomunikasi pun bermacam-macam ragamnya, bahasa yang digunakan itu merupakan bahasa yang biasa kita pakai sehari-hari atau campuran antara bahasa
Bahasa yang digunakan remaja sering berubah, hal ini terkait dengan pribadi remaja yang masih labil. Salah satu ragam bahasa yang dipakai oleh remaja adalah bahasa prokem. Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi ini merupakan bahasa sandi yang digunakan penuturnya sebagai bahasa khusus untuk kalangan mereka. Karena keberadaannya sebagai alat komunikasi yang khusus inilah bahasa prokem banyak digunakan di kalangan remaja. Bahasa ini merupakan jenis variasi bahasa yang terdapat dalam masyarakat sehingga dapat dikaji dengan sosiolinguistik.
a. Pengertian Bahasa Prokem
Bahasa prokem atau slang adalah bahasa sandi yang dipakai dan hanya dimengerti kalangan remaja. Bahasa ini konon berasal dari kalangan preman. Bahasa prokem ini digunakan sebagai sarana komunikasi diantara remaja selama kurun tertentu. Sarana komunikasi ini diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan informasi yang tidak boleh diketahui oleh kelompok usia lain terutama oleh kalangan orang tua. Ragam ini mereka gunakan agar orang dari kelompok lain tidak mengetahui tentang apa yang sedang dibicarakanya. Bahasa prokem ini timbul dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya, hal ini merupakan perilaku kebahasaan yang bersifat universal.
Kosakata bahasa prokem remaja sering diambil dari kosakata yang hidup dilingkungan tertentu. Pembentukan kata dan maknanya beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainnya. Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu dengan menggunakan bahasa prokem mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat eksklusif.
b. Pemakai Bahasa Prokem
Penganut bahasa pada umumnya ingin mengetahui masalah ini, terutama karena bahasa ini merupakan ragam percakapan tidak resmi yang banyak dipakaisebagai bahasa intern berupa kosa kata bahasa Indonesia pada umumnya. Sebagian besar mengatakan bahwa bahasa ini hanya digunakan para remaja yang suka iseng dan tidak mau berprestasi, bahasa yang tidak komunikatif merupakan gejala modeyang bersifat sementara dan cenderung menghambat upaya pembakuan bahasa
Kalau bahasa prokem ini dianggap mulai timbul dari kaum remaja yang iseng, dari mana masyarakat umum memahami bahasa prokem? Setelah diamati dan diteliti, ternyata bahwa bahasa prokem ini justru mulai digunakan warga masyarakat pada saat munculnya tukang copet, tukang jambret, perampok, pembunuh, dan pekerjaan lain yang menjurus kearah kriminalitas.
Dikatakan bahwa mereka ini yang sering sebagai orang preman-selalu berkomunikasi dengan orang lain yang seprofesi dengan menggunakan sejenis bahasa yang digunakan secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, orang-orang karena alasan tertentu-penjual makanan, minuman, bahkan keperluan hidup lain, atau anggota keluarga-berhubungan dengan orang preman ini (hampir) setiap hari, lama kelamaan secara perlahan-lahan dapat memahami makna istilah-istilah yang digunakan kaum preman ini. Bahasa ini kemudian diserang beberapa orang yang tidak seprofesi, tetapi yang sering bertemu muka dengan mereka ini. Mereka ini antara lain adalah pemuda dan remaja putus sekolah, yang ketika itu dikenal dengan orang dengan nama crossboy. Dari sinilah bahasa prokem mengembangakan sayapnya dan dikenal dengan istilah "Preman".
Kelompok yang kemudian tertarik untuk mempelajarinya adalah para remaja yang masih sekolah, baik disekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama, maupun sekolah lanjutan tingkat atas, bahkan ada yang masih duduk dibangku sekolah dasar atau sudah di perguruan tinggi.
c. Wujud Bahasa Prokem
Tidak ada orang yang dapat menjelaskan secara tepat bagaimana wujud bahasa prokem pada waktu timbul pertama. Namun mengingat bahwa nama bahasa ini disebut "bahasa prokem", penulis mengambil kesimpulan bahwa bentuk olahan awal bahasa ini adalah penyisipan-ok-,antara lain seperti yang terlihat pada nama bahasa itu : 'prokeman', lalu mengalami gejala apokot dengan lenyapnya bunyi akhir menjadi prokem. Kalau kita perhatikan kosakata bahasa prokem sampai pertengahan dekade 80, tampak bahwa sebagian kata-katanya diolah dengan memberi sisipan -ok-. Apakah cara ini saja yang digunakan pada saat awal timbulnya, tidaklah dapat dipastikan. Namun dari data tertulis dapat disimpulkan bahwa kosakata yang diolah dengan cara ini merupakan salah satu rumus yang memegang peranan yang sangat penting, melihat besarnya kosakata seperti ini disekitar 30 %.
Di samping penyisipan -ok-, kosakata bahasa prokem pun banyak mengalami gejala metatesis (pembalikan urutan penulisan huruf). Gejala ini sudah dikenal lama sekali ia sudah tampak sekitar 30 tahun yang lalu. Namun yang patut dicatat adalah bahwa pembalikan unsur-unsur kata yang diolah itupun mempunyai beberapa bentuk yang berbeda. Beberapa perbedaan di antaranya masih dapat kita lihat dari kosakata yang tampak dari sejumlah data yang tertulis, seperti dalam kibin'bikin', depek'pendek', maya'ayam', dan baak'asbak.
Para remaja ini cenderung mencampuradukkan segala macam pola kedalam bahasa prokem seolah-olah mau menganggap bahwa segala macam bentuk yang tidak
Kosakata suatu bahasa senantiasa mencerminkan keadaan lingkungan, sikap hidup, serta alam pikiran para penuturnya. Sebagian besar kata berhubungan dengan keadaan sekitar dan kehidupan penuturnya sehari-hari. Hal yang sangat berlaku terhadap bahasa prokem ini. Kosakata yang timbul dahulu lebih menjurus kearah dunia hitam: dunia pencuri, pencopet, penodong, dan perampok. Boleh dikatakan bahwa kaum preman sama sekali tidak mau menghiraukan masalah-masalah dan hal-hal di luar lingkungan kehidupan mereka. Sebagian besar kosakata menggambarkan orang-orang serta barang-barang sasaran, tempat, serta lingkungan sasran, dan khalayak serta petugas keamanan yang justru menjadipenghambat dalam melaksanakan kegiatan mereka.
d. Pemakaian Bahasa Prokem di Kalangan Remaja
Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Masa pemakainya terbatas pada situasi tidak resmi. Jika mereka berada di luar dari lingkungan kelompoknya bahasa yang digunakan beralih ke bahasa lain yang berlaku di tempat umum itu. Kehadirannya dalam lingkungan bahasa daerah atau bahasa Indonesia sesungguhnya tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing timbul, dan berkembang sesuai dengan fungsi dan keperluan masing-masing.
Bahasa prokem itu diantaranya ditandai dengan penggunaan kata-kata slang, jargon ,singkatan, dan ungkapan formulaik iklan. Kosakata slang adalah kosa kata yang maknanya perlu dirahasiakan. Kosa kata ini biasanya diletakkan diantara kata dalam bahasa
Keaktifan sehari-hari para remaja kita lebih banyak berkaitan dengan kehidupan keluarga, keadaan sekolah dan atau perguruan tinggi, serta masalah-masalah kenakalan remaja. Ini menyiratkan bahwa kosakata yang timbul kemudian mengacu pada hal dan masalah sekitar rumah, pergaulan, pendidikan, dan kenakalan remaja yang terungkap dengan istilah kekerabatan, kata ganti orang, masalah seks, narkotik dan obat-obatan sejenis serta minuman keras. Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa semua kosakata kaum preman sama sekali tidak digunakan para pemuda dan remaja, tetapi fungsi suatu benda dalam suatu kelompok, yang bentuknya juga dikenal anggota kelompok lain, tentulah berbeda.
Dari uraian di atas tampak bahwa perbedaan bahasa prokem antara kedua kelompok ini terjadi karena penuturnya berbeda, fungsi dan tujuan pemakaiannyapun berbeda: kaum preman melakukan tindakan kejahatan, para pemuda dan remaja suka bergembira dan bergaul dengan sesamanya. Setelah bahasa prokem ini lebih banyak digunakan para pemuda dan remaja pengertian "bahasa prokem" ini telah berubah atau lebih tepat dikatakan bergeser maknanya.
Bahasa prokem ini tidak lagi disediakan dengan bentuk dan rumus atau kode bahasa itu, melainkan lebih ditonjolkan sebagai bahasa kode atau sandi yang dipakai oleh kelompok tertentu, dalam hal ini para pemuda dan remaja. Setiap kelompok dapat seja memberi inpterperestasi yang berbeda-beda menurut pengertian masing-masing, karena itu dapat kita temukan sejumlah variasi dalam pemakaian kalimat bahasa
e. Contoh-contoh Kosakata Bahasa Prokem
Kata unik dalam bahasa prokem itu diantaranya adalah :
1. Akronim:
selaras ‘semakin laku keras'
Turbo 'turunan bokek'
Manja 'mandi jarang'
Pejabat 'peranakan jawa batak'
Sersan 'serius tapi santai'
2. singkatan huruf awal:
TKW 'tak kenal wanita'
KUHP 'kasih uang habis perkara'
AC 'adengan cinta'
MBA 'memble aja'
3. Pemakaian kata yang huruf awalnya sama dengan huruf awal kata yang
diacu:
Ji SamSoe 'jiwaku sampai surga'
Bentul Filter 'blue flim'
Taksi gelap 'tante girang'
4. Pemakaian kata yang bermajas ironi:
Badak 'kasar'
Bonsai 'orang kerdil'
Gersang 'tidak disungguhi minum'
King 'bapak'
5. Contoh-contoh lain
Bokap : bapak
Bonyok : bapak ibu
Boceng : petugas keamanan
Cuek : tidak acuh
Doku : uang
Doi : pacar
Hebring : sangat hebat
Ngelinting : mengisap ganja
Nyokap : ibu
Telmi 'telat mikir'
ABG 'anak baru gede'
Camer 'calon mertua'
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa prokem banyak digunakan kaum pemuda dan remaja, pada umumnya digunakan penuturannya
untuk berkomunikasi dengan sesama dalam keadaan santai dan berfungsi untuk menjalin keakraban. Bahasa inipun digunakan sebagai identitas keakraban. Bahasainipun digunakan sebagai identitas kelompok hingga ada kemungkinan bahwa kelompok yang berbeda akan menggunakan kosa kata yang berbeda pula. Sebagian besar kata-katanya dibentuk seolah-olah merupakan kata biasa yang digunakan orang dalam percakapan sehari-hari.
Dari pemakaian tampak bahwa keadaaan ini tidak perlu terlalu dirisaukan karena bahasa ini hanya merupakan suatu gejala yang serupa dengan gejala dialek lainnya yang dikenal dengan bahasa
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa.
Anwar, Khaidir. 1984. Fungsi dan peranan Bahasa : Sebuah Pengantar. Yogyakarta :