Friday, March 21, 2008

Perkembangan Aliran Linguistik

PERKEMBANGAN BEBERAPA ALAIRAN LINGUISTIK

ALIRAN TRADISIONAL

Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat dimulai pada abad IV Sebelum Masehi yaitu ketika Plato membagi jenis kata dalam bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yaitu onoma dan rhema. Onoma merupakan jenis kata yang menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan. Sedangkan rhema merupakan jenis kata yang digunakan mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan. Secara sederhana onoma dapat disejajarkan dengan kata benda dan rhema dapat disejajarkan dengan kata sifat atau kata kerja. Pernyataan yang dibentuk onoma dan rhema dikenal dengan istilah proposisi.

Penggolongan kata tersebut kemudian disusul dengan kemunculan tata bahasa Latin karya Dyonisisus Thrax dalam bukunya ”Techne Gramaticale” (130 M). Dengan demikian pelopor aliran tradisionalisme adalah Plato dan Aristoteles. Tokoh-tokoh yang menganut aliran ini antara lain; Dyonisisus Thrax, Zandvoort, C.A. Mees, van Ophuysen, RO Winstedt, Raja Ali Haji, St. Moh. Zain, St. Takdir Alisyahbana, Madong Lubis, Poedjawijatna, Tardjan hadidjaja.

Aliran ini merupakan aliran tertua namun karena ketaatannya pada kaidah menyebabkan aliran ini tetap eksis di zaman apapun.

Ciri-ciri aliran ini antara lain:

1. Bertolak dari landasan pola pikir filsafat

2. Pemerian bahasa secara historis

3. Tidak membedakan bahasa dan tulisan.

Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa dan tulisan sehingga secara otomatis mencampuradukkan penegrtian bunyi dan huruf.

4. Senang bermain dengan definisi.

Hal ini karena pengaruh berpikir secara deduktif yaitu semua istilah didefinisikan baru diberi contoh alakadarnya.

5. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah.

Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa tata bahasa yang cenderung menghakimi benar-salah pemakaian bahasa, tata bahasa ini disebut juga tata bahasa normatif.

6. Level-level gramatikal belum rapi, tataran yang dipakai hanya pada level huruf, kata, dan kalimat. Tataran morfem, frase, kalusa, dan wacana belum digarap.

7. Dominasi pada permasalahan jenis kata

Pada awalnya kata dibagi menjadi onoma dan rhema (Plato) lalu dikembangkan oleh Aristoteles menjadi onoma, rhema, dan syndesmos. Kemudian pada masa tradisionalisme ini kata sudah dibagi menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, artikel, verba, adverbia, preposisi, partisipium, dan konjungsi. Pada abad peretngahan Modistae membagi kata menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, partisipium, verba, adverbia, preposisi, konjungsio, dan interjeksi. Pada zaman renaisance kata kembali dibagi menjadi tujuh nomina, pronomina, partisipium, adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Perkembangan jenis kata di Belanda dibagi menjadi sepuluh yaitu nomina, verba, pronomina, partisipium, adverbia, adjektiva, numeralia, preposisi, konjungsi, interjeksi, dsan artikel.

Keunggulan Aliran Tradisional

a. Lebih tahan lama karena bertolak dari pola pikir filsafat

b. Keteraturan penggunaaan bahasa sangat dibanggakan karena berkiblat pada bahasa tulis baku

c. Mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena aliran ini sengan bermain dengan definisi

d. Menjadikan para penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa kareana pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah

e. Aliran ini memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan prinsip yang benar adalah benar walaupun tidak umum dan yang salah adalah salah meskipun banyak penganutnya.

Kelemahan Aliran Tradisional

a. Belum membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian bahasa dan tulisan masih kacau

b. Teori ini tidak menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan.

c. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah sehingga meskipun pandai dalam teori bahasa tetapi tidak mahir dalam berbahasa di masyarakat.

d. Level gramatikalnya belum rapi karena hanya ada tiga level yaitu huruf, kata, dan kalimat.

e. Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa Latin yang sangat berebda dengan bahasa Indonesia

f. Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata (part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.

g. Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya sebagian dari ragam bahasa yang ada.

h. Objek kajian hanya sampai level kalimat sehingga tidak komunikatif

ALIRAN STRUKTURAL

Teori ini berlandaskan pola pikir behaviouristik. Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916. aliran ini lahir bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern. Tokoh-tokoh yang merupakan penganut teori ini adalah : Bally, Sachahaye, E. Nida, L. Bloomfield, Hockett, Gleason, Bloch, G.L. Trager, Lado, Hausen, Harris, Fries, Sapir, Trubetzkoy, Mackey, jacobson, Joos, Wells, Nelson.

Ciri-ciri Aliran Struktural

1. Berlandaskan pada faham behaviourisme

Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).

2. Bahasa berupa ujaran.

Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa . dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture.

3. Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.

Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.

4. Bahasa merupakan kebiasaan (habit)

Berdasarkan sistem habit, pengajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan.

5. Kegramatikalan berdasarkan keumuman.

6. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi.

Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Tataran di atas kalimat belum terjangkau oleh aliran ini.

7. Analisis dimulai dari bidang morfologi.

8. Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik

9. Analisis bahasa secara deskriptif.

10. Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.

Unsur langsung adalah unsur yang secara langsung membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur langsung yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.

Keunggulan Aliran Struktural

a. Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.

b. Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaan

c. Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.

d. Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.

e. Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.

Kelemahan Aliran Struktural

a. Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.

b. Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.

c. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.

d. Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.

e. Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.

f. Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.

ALIRAN TRANSFORMASI

Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan.

Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz, Allen, van Buren, R. D. King, R.A. Jacobs, J. Green, dll.

Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi.

Ciri-ciri Aliran Transformasi

1. Berdasarkan faham mentalistik.

Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.

2. Bahasa merupakan innate

Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)

3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.

Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.

4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance

Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.

5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.

6. Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif

Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.

7. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.

Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.

8. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.

Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.

9. Gramatikal bersifat generatif.

Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).

Keunggulan Aliran Transformasi

a. Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.

b. Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)

c. Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.

d. Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.

e. dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.

Kelemahan Aliran Transformasi

a. Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat

b. Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.

c. Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structure


13 comments:

  1. woi, ngeblog wae ndadak gowo2 paper kuliah barang. cape dech!

    ReplyDelete
  2. nUhun piSaN Lah.... beRmanFaat kiTu tah kaNggo kuLiah.....He,hE.He.

    ReplyDelete
  3. nUhun piSaN Lah.... beRmanFaat kiTu tah kaNggo kuLiah.....He,hE.He.

    ReplyDelete
  4. AduH jaDi terHaru kitu Tah ....akhIrnYa daPet juGa baHan buat tUgaS.......nuHun.

    ReplyDelete
  5. mengalir-saja.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading mengalir-saja.blogspot.com every day.
    payday loans
    payday loans in canada

    ReplyDelete
  6. sukurlah kalo bermanfaat,,,daripada dijual di shopping mending diupload kan

    ReplyDelete
  7. da bahan lain tentang aliran linguistik ga ya?saya butuh bgt buat bhn kuliah. tengkyu
    ali

    ReplyDelete
  8. ada, buku ttg aliran linguistik tapi diktat kuliah, mau???

    ReplyDelete
  9. alhamdulilah bahan kanggo tugas teh kapendak...... lulus ui.....!!!!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete
  10. sy..farah..sy ingin bertanya..buku apa yg saudari guna sbg rujukan..mohon dikongsi kerana..sy ada tugasan berkaitan tajuk ini..trima kasih

    ReplyDelete
  11. Kelemahan Aliran Transformasi

    a. Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat.

    wah2, sbg generativis, pernyataan ini benar2 salah. benerapa buku yg terbit di indo jg salah kaprah menyebutkan transformasi tidak memilah konsep klausa dan kalimat. justru klausa adl inti kalimat, dan analisis kalimat adl berdasarkan analisis klausa... generatif mmg agak susah, tp bbrp linguis indo salah kaprah menerangkannya, mis Effendi Kadarisman (UM) dan satu lagi prof. UNY *lupa namanya...
    harap dikoreksi ^^

    ReplyDelete