Sunday, March 25, 2007

Malam.......

Catatan Suatu Malam

Malam ini entah mengapa mata tak jua terpejam....
obrolan telah usai....
rokok2 telah mati dan yang lain telah terpejam..
namun mata ini masih nanar...
tak bisa terpejam..
tetap membelalak menatap gelap yang kian hitam...
sementara kabut makin mendingin...
mengkristalkan segalanya membekukan segala.........
aku masih terpekur......
menatap langit pagi ini yang menjadi dingin oleh jutaan bintang yang bertahta tanpa rembulan.........
kemana rembulan ?gumamku...
kenapa ia tak muncul....
apa dia telah bosan....
ataukah telah lelah.....
entahlah....
yang jelas malam begini dingin...
dan hanya uap air semakin membekukan suasana....
hingga sepi hampir mengulitiku dengan tajamnya pisau kesunyian....
syahdu....
alam tak berteriak atau berisyarat......
semakin dingin...
tak ada kebekuan yang cair........
hati ini kian membatu...
menunggu..........

Untuk Lelakiku...........

Untuk Lelakiku
:

Aku mengenangmu lelakiku
Saat gerimis menyambutku
Bersama angin gunung
Yang menghempas bunga-bunga jagung
Yang siap tersemai
Aku ingin memelukmu lelakiku
Saat dingin angin menyeruak
Menggilas tubuhku
Diantara pematang kebun teh
Aku ingin mencintaimu seperti angin gunung itu
Menyeruak menembus kulitku lalu menyatu
Bersama aliran darah
Dan menyusup di setiap inci tubuhku
Erat mendekapku
Aku ingin menyatu
Hanya jiwaku dan jiwamu
Slalu……


Wonosobo, 23 Januari 2007

Tak Sebatas Impian

TAK SEBATAS IMPIAN
Aku hanya bisa menatapnya dari balik kacamata minusku. Klasik memang, hari gini aku masih saja nggak berani untuk mendekati cowok. Memang begitulah aku. Tumpukan buku menjadi sahabatku sehari-hari mulai dari diktat kuliah sampai novel-novel mutakhir yang menurut dosenku menunjukan kekosongan eksisitensial penulisnya. Ya, kekosongan itulah yang mewarnai hidupku.
Hari ini untuk kesekian kali aku hanya bisa menatap sosok itu menaiki tangga di sebelah ruang kuliahku. Sosok yang begitu sempurna dimataku. Dony Setyawan namanya, dialah sosok pertama yang menciptakan gemuruh di hatiku.
Semalam aku habis melahap trilogi-nya Fira Basuki Jendela-jendela, Pintu, dan atap sehingga pagi ini aku kesiangan. Setengah berlari aku menaiki tangga namun belum sampai anak tangga terakhir sebuah teriakan memanggil namaku. “Tya,” begitu mengagetkanku teriakan itu. “Oh my God, mimpikah aku seorang Dony memanggilku. “Tunggu Tya,” dan kuhentikan langkahku dan ia pun mensejajarkan langkahnya denganku. Aku tak peduli lagi akan keterlambatanku, bahkan kucoba mencubit diriku sendiri kuyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi.
Sekian menit aku bersamanya dan aku merasa bahagia hingga Dony mengingatkan bahwa aku harus kuliah. Tapi percuma dosenku tak bisa menoleransi keterlambatanku. Aku tak ikut kuliah, tapi aku bahagia apalagi sebelum berpisah Dony meminta nomor Hpku dan berjanji akan menghubungiku.
Betapa bahagianya hatiku tak ada hal lain dalam otakku hanya Dony bahkan buku-buku favoritku pun menjadi tidak menarik lagi. Sampai sore hari kutunggu janjinya. Menjelang malam ponselku berbunyi dan sebuah nomor baru masuk ke ponselku. Kuangkat teleponnya dan dari ujung sana kudengar suaranya.
“ Tya, maafin aku ya gara-gara aku kamu jadi terlambat.”
“ Nggak papa kok Don, aku malah senang kamu kita bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol.”
“Oh ya udah maaf ya ganggu, tar aku SMS aja ya pulsaku limit nih, bye.”
Kutunggu SMSnya tapi tak ada pesan masuk ke inboxku. Aku putus asa tapi aku tak berani untuk menghubunginya tak berani untuk memulai percakapan dengannya.
Dua hari, tiga hari, satu minggu tak jua kudengar kabar darinya. Aku kembali menjadi Tya yang terpuruk di balik setumpuk buku.
Berminggu-minggu tak ada kabar, aku mulai menjalani rutinitasku yang menyebalkan. Tanpa sengaja aku melihatnya di kerumunan cewek di pojok ruangan, mereka sedang bercengkerama. Hatiku panas, mungkinkah aku cemburu? Aku hanya bisa memandangnya saat cewek-cewek centil itu menggodanya sambil mendengar suara hatiku yang menertawakan ketidak beranianku untuk menyapanya.
“Bodoh kamu Tya, kalau kamu diam saja mana mungkin dia tiba-tiba akan jatuh ke hadapanmu membawa sekeranjang kata cinta.”
Entah kenapa suara dari bawah alam sadarku tadi begitu memukul aku. Akhirnya kucoba untuk sekedar miscall dia dan ternyata dia SMS aku.
Knp Tya kok cuma miscall? Kangen ya?
Deg SMS itu membuat pipiku merona seketika, “kok dia bisa tahu kalau aku merindukannya?” Akupun tak menyia-nyiakan waktu untuk membalasnya.
“Cuma ngetes aja apa nomormu masih aktif, km ga pernah SMS aq lg sih”
Dan kukirimkan pesan singkat itu kepadanya dan tak lama kemudian masuklah sebuah report
Message delivered
Kutunggu lima menit hingga dia membalasnya
Sory Tya aq lg sbk, tgsku bnyk n aq lg ada mslh nih ma seseorg
Kupikir pasti masalah dengan ceweknya kuberanikan diri menanyakan itu dan tak kuduga ternyata pertanyaanku tepat
Ya gt deh, kt tmnku dy liat ce ku jln ma co lain n aq dah bktikan sndr
Dengan bijak kucoba memberi solusi kepadanya
“coba dl km tny ke dy sp tw co itu kakaknya ato sdrnya, jgn buru2 termakan gossip penyesalan selalu dtng terlambat lo!”
kutunggu lama sekali dia tidak membalas. Kupikir dia marah atas kata-kataku tapi akhirnya kuterima balasan darinya.
Sory lm blsnya km bnr jg tp aq ykn coz aq prnh dikenalin ke sdr2nya, jujur aq plng ga sng diboongin thanx ya sarannya km ce yg pngrtian co km psti sng
Kubaca pesan singkat itu berulang-ulang, andai dia tahu kalau dialah yang selama ini ada dihatiku dan tidak kusediakan ruang dihatiku ini untuk orang lain.
Sejak saat itu ia rajin SMS aku bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar dan berita darinya yang terakhir kudengar bahwa ia telah putus dari ceweknya. Mendengar itu aku tak tahu harus sedih atau bahagia. Sedih karena apa yang kusarankan padanya tak ada yang berguna, bahagia karena akhirnya ada kesempatan untukku.
Tapi kupikir aku hanya bermimpi untuk mendengar kat cinta darinya. Mungkin aku punyakesempatan tapi bukankah di luar sana masih banyak cewek-cewek yang berebut cintanya. Aku tak yakin pada diriku sendiri tapi aku mencoba tetap positif thinking karena aku percaya bahwa apa yang kita pikrkan itulah yang terjadi dan peluang untuk mendapatkan Dony tetap ada.
Sore itu Dony datang kerumah. Dia mengembalikan buku yang dipijamnya dariku seminggu yang lalu. Tanpa kuduga di dalamnya terselip sebuah surat. Kubuka sampul ungu yang cantik dan kunikmati baris demi baris kata-katanya
Tya…
Mungkin kamu tak menduga aku akan mengatakan ini. Teramat sulit untukku tapi jujur lebih sulit lagi untuk menutupinya….
Setelah aku mengenalmu kurasakan sesuatu yang berbeda. Kamu tak seperti cewek-cewek lain yang menarik perhatianku dengan dandanan yang modis dan trendy. Kamu mampu mampu membuatku jatuh cinta dengan kepribadian, perhatian, dan kecerdasanmu.
Hanya itu yang bisa kuungkap I love u. would you like to be my girl friend?
Dony
Rasanya aku ingin menangis membacanya tak kusangka semua ini terjadi. Dony yang kukira hanya ada dalam mimpiku ternyata tak sebatas impian. Aku bahagia ternyata benar kata hatiku aku tak akan mendapatkannya kalau aku hanya diam dan terus berpikir bahwa aku tidak bisa. Tanpa pikir panjang kupencet keypad Hpku. Kuhubungi dia dan ketika tersambung aku hanya bisa berkata
“Love u too, Dony.”

Karena Cinta tak Memilih....

Karena Cinta Tak Memilih…..
“Radith,” kusentuh pundaknya dan perlahan dia menoleh ke arahku. Bisikanku cukup mengagetkannya.
“Rat, bagaimana? Cukupkah waktu yang kuberikan padamu? Ra, aku siap menerima apapun kenyataan yang akan kudengar darimu.”
Aku tetap beku mendengar semua kata-kata Radith. Aku tak bergeming aku tak tahu harus berkata apa justru ketika Radith tak lagi membisu.
Karena aku wanita yang tak mampu bersetia.
“Wanita mana yang takkan terbuai ketika sebuah kasih sayang dan perhatian besar datang membuainya,” bisik suara hatiku.
Aku tak bisa bertahan ketika sosok yang kini diam disampingku ini mengurai sejuta kata cinta dan memberi kasih sayang yang tak diberikan Bayu padaku. Karena Radith mampu mencari celah diantara kesenanganku, karena dia mampu memberikan semua yang tak kudapat dari Bayu kekasihku dan dia mampu menggoyahkan hatiku yang selama ini begitu kokoh bersetia pada Bayu.
Bayu yang selama beberapa tahun ini setia padaku, hanya karena dia tak selalu ada disampingku maka aku berpaling. Bayu seperti namanya yang berarti angin selalu mengembara tak pernah kutahu dimana dia berada mungkin di dasar jurang ataupun di puncak gunung karena dia adalah seorang petualang yang tak pernah bisa diam. Saat aku menggigil di bawah selimut dimana dia entahlah mungkin dia sedang berselimut malam ataukah bermandikan hujan aku tak tahu.
Dia tidak romantis tapi begitu setia bahkan terlalu setia. Sementara Radithya, matahari yang tak pernah lelah memberikan sinar cintanya padaku. Aku bingung tak tahu mana yang harus kupilih. Bayu dengan kesetiaannya ataukah Radith dengan segudang perhatiannya?
“Rat, kutahu sulit bagimu untuk memilih tapi aku siap terhadap pilihanmu, sudah dua jam kau tetap bisu ayolah aku tak mau kau diam dan misterius seperti malam yang merupakan terjemahan dari namamu, please Rat!” dan aku masih tak mampu berkata. Aku sangsi akan apa yang akan kukatakan padanya.
“Mungkin akan ada rasa sakit hati tapi percayalah aku tak selemah yang kau kira. Aku laki-laki dan aku bukan pengecut apapun keputusanmu akan kuterima. Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, bukankah akan sama saja sekarang, besok, atau lusa?”
Aku sudah akan berkata ketika sekelebat bayangan Bayu melintas seperti angin dihadapanku kemudian berganti Radith dangan ekspresinya yang tak bisa kutebak.
“Rat, sampai kapan kau akan diam? Bukankah lebih baik bicara daripada diam dan membuat orang lain berburuk sangka? Katakan Rat, meski itu akan menyakitkan,” Radith menatapku tak seperti biasanya, begitu tajam dan aku hanya bisa diam tak bergeming.
“Rat, mungkin salahku hadir diantara kalian, tapi bukankah kau tak pernah keberatan atas kehadiranku?” aku ingin berlari saja mendengar kata-kata Radith yang kian memojokkanku.
“Ratri, ayolah jangan terus menyimpan misteri, apa karena namamu yang berarti malam maka kau harus menyimpan misteri, gelap seperti malam? Jawablah dewi malamku.” Dasar Radith masih sempat dia merayuku.
“Jangan terlena Ratri!” bisik suara hatiku.
Sekilas bayangan Bayu muncul lagi melintas dan tertangkap retina mataku, sosok pria setia yang tak pernah romantis. Hanya sekali ia menunjukkan keromantisan pada dirinya.
Pagi itu pertengahan Januari, masih kuingat hujan di dini hari. Dia mengetuk pintu kamarku dan membawakanku setangkai edelweiss dari Merbabu katanya. Tak ada kata cinta dan itulah sikapnya yang paling romantis yang terkenang dalam ingatanku. Hanya itu, tak sebanding dengan perhatian Radith. Karena ia sangat peduli bahkan untuk perhatian-perhatian kecil yang sering terabaikan dan dianggap remeh.
Seiring senja yang kian memerah aku harus menentukan manakah yang akan kupilih. Aku sudah menentukan pilihanku. Sudah kutimbang masak-masak apa yang akan aku katakan.
“Radith, aku akan jawab apa yang ingin kamu dengar, aku berhak untuk memilih dan aku memilih untuk tak memilih Dith, aku tak memilih kalian berdua. Bukankah ini adil? Itulah pilihanku aku tak memilih kau maupun Bayu karena aku tak mau ada yang bahagia dan menari diatas tangis yang lain. Ini adil untuk kita bertiga, aku tak mau dengan memilih salah satu akan menyakiti yang lain. Meskipun aku juga harus sakit karena aku kehilangan kalian. Adilkan? Kita bertiga sama-sama sakit.” Kutarik nafasku dan kuselesaikan ucapanku. Berat harus melepas semuanya tapi tak adil jika aku harus memilih salah satunya.
“Makasih Rat, tak kusangka kau rela kehilangan aku dan Bayu sebagai konsekuensi atas keputusanmu tapi aku hargai keputusanmu,” ucapnya parau. Kulihat ada segurat kesedihan di matanya. Mata yang sekian lama ceria kini murung, muram tak ada cahaya.
Kuikuti langkahnya meninggalkan pantai ini. Angin senja mempermainkan rambutku. Kulihat sosok Radith dari balik punggungnya ada kesedihan disana. Aku pun merasakannya aku sedih harus melepaskannya tapi aku tak mau menyakiti Bayu yang begitu setia padaku.
“Rat, terima kasih kau berikan kesempatan untuk menyayangimu meski hanya sesaat tapi percayalah kau akan tetap menjadi yang paling berkesan. Rat, mungkin kita dulu memulai dengan awal yang salah, jika suatu saat ada kesempatan aku akan memulainya dengan awal yang lebih indah agar tak begini akhirnya. Sekarang aku harus pergi, dan rasakanlah jika dengan kepergianku ada satu hal yang terasa kurang pada dirimu berarti ada cinta di sana, di dasar hatimu untukku.” Dilepasnya tanganku dan kubiarkan dia pergi. Aku mematung tak bergeming membiarkannya meninggalkanku.
Kutatap kepergiannya bersama segurat cahaya lembayung yang kian redup. Tiba-tiba kurasakan kehampaan, apakah karena mentari itu pergi?

Perjalanan Sepotong Cinta

Sepotong cinta....
Entahlah sepotong cinta itu benar-benar kumiliki atau tidak....
Nanar mataku menatap sosok lelaki yang berbaring di sebelahku malam ini...
Diakah sepotong cinta yang kutemukan.........
Ataukah hanya sama seperti yang lain singgah sesaat kemudian menjalankan perjalanan dan menjadikanku hanya semacam stasiun tempat mereka singgah sejenak melepas penat, hanya sekedar tempat istirahat mengurangi beban berat yang membuncah mengurangi lelah yang singgah pada tubuh penat mereka.....
Aku sudah lelah sayangku......
Aku sudah tak ingin lagi menjadi stasiun yang hanya digunakan sebagai tempat singgah untuk sementara sebelum perjalanan harus dilanjutkan.......
Aku ingin menjadi stasiun terakhir bagi keretamu lelakiku............
tapi aku ragu masihkah kau lanjutkan perjalanan itu dan meninggalkanku nanti???
Lelakiku kau masih berbaring, begitu indah memandang sunggingan senyummu kala kelelahan menghimpitmu..Siapakah yang membuatmu tersenyum lelakiku?Apakah sesosok bidadari yang memelukmu dalam mimpi indahmu???
Lelakiku takkah kau lelah juga.........
Sudah puluhan wanita bergantian mengisi hidupmu,.,.Terpajang dalam etalase yang memamerkan senyum mereka........Demikian juga aku lelakiku...aku sudah bener-benar tertatih kecewa dan kecewa.....terluka-dan terluka....
Perjalanan sepotong cintaku yang kini kau pungut, masihkah akan kau buang lagi??
"aku menyayangimu sayangku..." katamu dalam igauan, mengagetkanku yang tengah memandang sungginganmu.....
"apakah sayang itu sepenuhnya milikku?"
aku tak percaya lelakiku, tapi untuk curiga kau berdusta aku sudah tak mampu....
Aku sudah lelah menyandarkan hubungan pada sebuah ketidakpercayaan,...' aku sudah tak kuasa lagi.....
lelakiku perjalanan sepotong cintaku pun ingin berhenti jika aku kereta dan kau stasiun maka aku inin kau menjadi stasiun terakhir yang akan kujadikan persinggahan terakhir......Dan seandainya kau kereta aku ingin menjadi stasiun tempat persinggahan terakhir bagi perjalanan sepotong cintamu...............

Saturday, March 24, 2007

the beginning......

Ini adalah sebuah awal. Awal dimana aku mulai mencoba mengungkapkan segala dalam kata. bukan resah atau gundah namun hanya secoret kisah...kisah tentang manusia, tentang makhluk yang penuh problematika........makhluk yang tak pernah lelah menjalani segala pilihan yang tersaji di meja kehidupan...